Simpson's Paradox: Jebakan Agregasi
Simpson's paradox terjadi saat tren pada data gabungan berkebalikan dengan tren di setiap kelompoknya. Contoh nyatanya: obat A terlihat lebih unggul secara total, tapi ketika dipisah menjadi pasien ringan dan berat, obat B justru lebih unggul di kedua kelompok — karena komposisi pasiennya timpang. Akibatnya keputusan yang diambil dari angka total bisa berlawanan dengan kenyataan. Pertahanan paling murah adalah kebiasaan: setiap kali melaporkan angka agregat, pecah dulu berdasarkan kelompok penting seperti wilayah, segmen, atau periode.
👀 Contoh dulu
import pandas as pd
df = pd.DataFrame({
'grup': ['A', 'A', 'B', 'B'],
'kanal': ['web', 'apps', 'web', 'apps'],
'konversi': [0.10, 0.30, 0.12, 0.32],
})
print(df.groupby('grup')['konversi'].mean())Hasilnya: grup A 0.20 B 0.22 Name: konversi, dtype: float64
📝 Sekarang giliranmu
DataFrame df berisi kolom wilayah, segmen, dan konversi. Sebelum percaya pada angka total, hitung rata-rata konversi per pasangan wilayah dan segmen, lalu cetak hasilnya.